Keynote Speech Menteri Kelautan Dan Perikanan Pada Acara Seminar Nasional Strategi Swasembada Garam 2012 Bogor, 1 November 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Selamat Pagi, Salam Sejahtera bagi kita semua.

Yang kami hormati,

  1. Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc beserta jajarannya
  2. Pejabat Eselon 1  lingkup Kementerian Kelautan Perikanan
  3. Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Dr Arif Satria beserta jajarannya
  4. Seluruh Civitas Akademika IPB
  5. Para Pembicara dan hadirin yang berbahagia,

Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat berkumpul di IPB international Convention Center ini dalam keadaan sehat walafiat untuk melaksanakan Seminar Nasional “Strategi Swasembada Garam”.

Saya mengucapkan terimakasih kepada Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB serta seluruh civitas akademika IPB yang telah mengundang saya dalam kegiatan  ini. Saya menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan FEMA IPB bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk memberikan kontribusi penanganan garam yang saat ini  telah menjadi isu nasional yang harus kita perhatikan.

Perlu digarisbawahi pemerintah dan kita semua berkepentingan untuk mewujudkan Swasembada Garam Nasional. Namun demikian, yang terpenting swasembada tersebut harus diiringi peningkatan kesejahteraan petani garam. Karena itu upaya pencapaian swasembada garam harus seiring dengan upaya pemberdayaan petani garam.

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Sebagaimana kita ketahui, faktanya dalam beberapa tahun terakhir kita masih melakukan impor garam. Ini karena produksi nasional tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri, khususnya kebutuhan garam industri. Penting dibedakan, antara garam yang dikonsumsi masyarakat rumah tangga dan yang dijadikan bahan baku oleh industri.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Januari-November 2010, Indonesia mengimpor sebanyak 1,8 juta ton garam. Dari jumlah tersebut, impor garam untuk konsumsi 394.210 juta ton.

Sementara, produksi garam nasional pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 1,4 juta ton atau sekitar 48% dari total kebutuhan garam nasional sebesar 2,9 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka pemerintah melakukan impor garam sebanyak 1,7 juta ton dengan surplus impor sebesar 200.000 ton.  Adapun jumlah impor garam konsumsi pada tahun 2011 mencapai 932.756 ton atau meningkat dibandingkan impor tahun 2010 sebesar 597.583 ton.
Saat ini, Indonesia bisa dapat dengan cepat mencapai target Swasembada Garam Konsumsi. Dengan potensi produksi garam sebesar 1,4 juta ton, kita telah dapat  memenuhi kebutuhan garam konsumsi sebesar 1,1 juta ton sekalipun kebutuhan garam industri sebesar 1,8 juta ton menjadi tidak dapat terpenuhi. Saya sudah berbicara dengan Menteri Perdagangan bahwa kebijakan tentang impor garam perlu diperhatikan secara dinamis karena hal tersebut terkait dengan produksi dan besarnya kebutuhan konsumsi garam itu sendiri. Dan yang pasti, kita melakukan impor sebatas menambal kebutuhan dalam negeri alias tidak boleh surplus impor serta dilakukan di luar periode panen raya.

Kita juga harus menyadari bahwa faktor iklim sangat berpengaruh terhadap jumlah produksi garam terkait dengan masa panen raya. Panen raya baru dimulai pada Agustus, sedangkan banyak yang membutuhkan garam pada periode dari bulan Januari – Agustus.  Dengan demikian, saat masa panen raya, kita tidak usah melakukan impor untuk melindungi harga di tingkat petani garam. Selain itu, kita juga harus mengembangkan sistem stok distribusi garam untuk menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen.

Hadirin yang berbahagia,

Dalam kegiatan pergaraman, terdapat 6 (enam) isu strategis yang menjadi kendala, antara lain: Pertama, isu SDM dan kelembagaan yang mengakibatkan lemahnya posisi tawar para petani garam rakyat. Tingkat pendidikan petani  garam rakyat masih rendah, generasi muda masih kurang tertarik dengan usaha garam, motif menekuni usaha garam rakyat yang rendah, dan kondisi ekonomi rumah tangga petambak garam yang tergolong berpendapatan rendah.

Kedua, isu infrastruktur dan fasilitas produksi yang digunakan masih tradisional dan baru setengah dari total lahan potensial yang digunakan untuk memproduksi garam. Di samping itu, kondisi lahan tambak masih bermasalah, diantaranya ketimpangan kepemilikan lahan tambak, serta  sebagian besar kondisi fisik sarana produksi tambak banyak mengalami kerusakan.

Ketiga, isu permodalan yang menyebabkan para petambak garam rakyat masih belum optimal dalam mengakses sumber permodalan baik dari bank maupun non bank sehingga para petambak garam rakyat terjerat pada bakul, tengkulak dan juragan.

Keempat, isu regulasi yang menyebabkan lemahnya keberpihakan dan proteksi pemerintah pada sektor garam rakyat, sehingga usaha garam rakyat menjadi tidak prospektif dan marketable.

Kelima, isu tata niaga, pemasaran garam dikuasai/didominasi pedagang besar yang merupakan kepanjangan tangan pihak pabrikan. Petambak garam tidak mengetahui kualifikasi teknis mutu garam dan hanya berperan sebagai penerima harga (price taker) sehingga jika terjadi kenaikan harga garam, petambak tidak pernah menikmati keuntungan tersebut. Keterbatasan modal rumah tangga petambak juga membuat petambak dengan segera menjual hasil panen garamnya. Selain itu, juga sering terjadi praktek kecurangan dalam pemasaran garam karena tertutupnya akses petambak terhadap informasi mutu dan perkembangan harga.

Keenam. Isu teknologi,  pengelolaan garam tergolong ke dalam teknologi tradisional dengan sentuhan inovasi teknologi yang minimal. Hal ini menyebabkan  produktivitas dan kualitas garam yang dihasilkan masih rendah. Selain itu, pengelolaan garam memiliki ketergantungan tinggi terhadap cuaca (metode solar evaporation).

Hadirin yang berbahagia,

Untuk mencapai swasembada garam nasional,  terdapat 2 (dua) kebijakan, yaitu pertama, kebijakan swasembada garam konsumsi yaitu peningkatan produksi garam bahan baku konsumsi, peningkatan kualitas garam konsumsi beryodium, pemberdayaan masyarakat/pelaku usaha garam, dan pemenuhan kebutuhan konsumsi garam beryodium.

Kedua, kebijakan garam industri yaitu peningkatan produksi garam bahan baku industri untuk subtitusi impor secara bertahap, peningkatan kualitas garam bahan baku industri, dan inovasi teknologi industri untuk pengembangan garam. Menurut  Kementrian Perindustrian, kebutuhan garam industri mencapai 1,8 juta ton, dimana permintaan terbesar garam industri berasal dari industri soda kostik sebesar 1,6 juta ton, disusul untuk pengeboran minyak 125 ribu ton, industri tekstil dan sabun 17 ribu, industri kulit sebesar 10 ribu ton, dan lain-lainnya termasuk farmasi sekitar 50 ribu ton.

Hadirin para peserta seminar yang berbahagia,    Di samping kebijakan tersebut, maka dalam upaya pengembangan usaha garam rakyat, pemerintah akan melakukan: 1) Penyusuan Zonasi Lokasi Usaha Garam ; 2) Konsolidasi Lahan; 3) Jaminan Distribusi dan Pemasaran; dan 4) Jaminan Harga dan Mutu
Pada tahun 2011, Pemerintah telah melaksanakan Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat petambak garam rakyat yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan kerja serta mencapai swasembada garam nasional, melalui :

  1. Pembentukan sentra-sentra usaha garam rakyat di lokasi sasaran;
  2. Pemberdayaan dan peningkatpan kapasitas petambak garam rakyat dalam Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR);
  3. Peningkatan akses terhadap permodalan, pemasaran, informasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi bagi petambak garam rakyat; dan
  4. Pencapaian target produksi garam konsumsi sebanyak 349.200 Ton untuk mendukung Swasembada Garam Nasional.

PUGAR dilaksanakan di 40 Kabupaten/Kota pada 10 Provinsi dengan anggaran Rp 90 milyar dengan mengintensifkan luas lahan usaha garam rakyat seluas 4.365 ha, dan peningkatan produktivitas dari 60 ton/ha menjadi 80 ton/ha. PUGAR direncanakan akan memberdayakan 2.057 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) dengan jumlah anggota 14.400 orang petambak garam dan meningkatkan pendapatan petambak garam rakyat sebesar 15%.

Sampai saat ini, realisasi penyaluran Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) telah tercapai 88,42% dan jumlah produksi telah mencapai 25.736,83 ton atau sekitar 72.38% dari target produksi garam konsumsi sebanyak 349.200 ton.

Rektor IPB, Dekan FEMA dan Hadirin sekalian,      Sekali lagi kami sampaikan, upaya menuju Sawasembada Garam Nasional bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, kerjasama berbagai pihak baik dari pemerintah, perguruan tinggi, swasta, asosiasi dan LSM serta para petambak sangatlah diharapkan.

Semoga hasil dari seminar nasional ini dalam upaya merumuskan Strategi Swasembada Garam Nasional dan langkah-langkah konkrit yang harus diwujudkan, dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penyelesaian isu-isu pergaraman nasional, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani garam.
Hadirin yang berbahagia,

Sejalan dengan visi saya untuk meningkatkan industrialisasi sektor kelautan dan perikanan, saya berharap IPB dapat terus melakukan kajian-kajian mengenai masalah kelautan dan perikanan, baik aspek sosial ekonomi,  kelembagaan, dan teknologi. Dimana hasil kajian tersebut sangat penting sebagai input dalam penyusunan kebijakan dan program pemerintah.

Perlu dicacat industrialisasi ini semata-mata untuk meningkatkan nilai tambah dalam usaha sektor kelautan dan perikanan, sehingga memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteran para pelau usaha sektor kelautan dan perikanan, seperti nelayan dan petani garam.
Akhir kata, semoga segala ikhtiar kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat senantiasa mendapat ridho Allah SWT.

Wabillahi taufik wal hidayah.
Wassalamua’laikum warahmatullahi wabarokatuh.


MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

SHARIF C. SUTARDJO

Article source: http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/6498/KEYNOTE-SPEECH-MENTERI-KELAUTAN-DAN-PERIKANAN-PADA-ACARA-SEMINAR-NASIONAL-STRATEGI-SWASEMBADA-GARAM-2012-BOGOR-1-NOVEMBER-2011/?category_id=2



Category: Info KKP

Berita Terkini

Delicious Digg Facebook Twitter

Welcome Appikando – Asosiasi Pengusaha Pindang Ikan Indonesia

Log in

Lost your password?

Register For This Site

Join

Join us as we spread the word.

 
 
/